Wereng Jagung (Peregrinus Maidis Ashm)
adalah salah satu hama minor di tanaman jagung, namun keberadaan patut
diwaspadai karena potensi kehilangan hasil yang disebabkan oleh serangan wereng
ini bisa mencapai 70 %, hal ini disebabkan wereng ini menghisap cairan tanaman
sehingga menyebabkan daun mengering dan bisa menyebabkan tanaman menjadi kerdil
dan tidak menghasilkan tongkol yang sempurna selain itu hama ini juga diketahui sebagai vektor beberapa jenis virus diantaranya MMV (Maize Mosaic Rhabdovirus)
dan MStV (Maize Tenui virus) , walaupun belum ada laporan tentang kerugian yang
serius karena serangan hama ini karena umunya serangannya pada umur 47 - 73 HST
yang mana telah melewati fase kritis tanaman jagung, sehingga kerugian yang
disebabkan tidak terlalu signifikan, walaupun beberapa tahun terakhir ada
laporan bahwa wereng jagung juga ditemukan pada fase vegetatif 15 - 42 HST.
Wereng jagung Peregrinus maidis Ashmead
adalah serangga hama yang hidup pada tanaman jagung. Serangga ini mempunyai
nama synonim antara lain Delphax maidis Ashmead, Delphax
psylloides Lethierryi, dan Pundaluoya simplicia Distant.
Serangga ini masuk dalam famili Delphacidae, genus Peregrinus dan specsies
maidis. Serangga ini tidak saja merusak tanaman jagung dan sorgum, tetapi juga
dapat menularkan penyakit sejenis virus yang disebut penyakit MMV (maize mosaic
rhabdovirus) dan penyakit MStV (maize tenuivirus), Serangga ini mempunyai
banyak inang walupun niche utamanya adalah jagung dan sorgum. Serangga ini
dapat juga bertahan hidup pada beberapa rerumputan dari jenis rumput
navier Pennisetum purpureum Schumach, rumput vasey Paspalum
urvillei Steud, tanaman tebu Saccharum officinarum L,
dan sorgum. Serangga ini ditemukan juga pada rumput coarse.
Siklus Hidup Wereng Jagung
Wereng Jagung betina bertelur 20-30
telur di dalam pelepah daun tanaman inang mereka. Dalam kondisi normal,
perkembangan dari penetasan ke dewasa membutuhkan waktu sekitar 20 hari. Namun,
perkembangan nimfa wereng jagung sangat tergantung pada suhu. Perkembangan
normal terjadi antara 20-27 ° C dan memiliki lima tahap nimfa (remaja). Suhu
ekstrem (di bawah 10 ° C dan di atas 30 ° C) mengakibatkan hilangnya instar
kelima dan ganti kulit langsung dari instar keempat ke dewasa, tetapi
perkembangan penuh hingga 74 hari. Wereng jagung ini mampu mereproduksi
sepanjang tahun, tetapi perkembangannya dipengaruhi oleh perubahan suhu. Faktor
lain yang mempengaruhi perkembangan adalah ketersediaan nutrisi. Peningkatan
kadar pupuk Nitrogen dalam jaringan tanaman menghasilkan waktu pengembangan
yang lebih singkat, lebih banyak telur yang dihasilkan, dan peningkatan tingkat
kelangsungan hidup nimfa dan Imago.
Mirip dengan wereng lainnya, wereng jagung juga memiliki dua jenis wereng dewasa yang berbeda dapat berkembang tergantung pada kondisi lingkungan, yaitu:
- Bracchypterous, memiliki sayap pendek (kurang berkembang) dan paling sering berkembang sebagai respon terhadap tanaman inang berkualitas tinggi,kepadatan populasi rendah dan tidakperlu penyebaran
- Macropterous, telah mengembangkan sayap sepenuhnya dan muncul ketika diperlukan penyebaran karena kepadatan populasi yang tinggi atau tanaman berkualitasrendah. Tujuan macropter, lebih banyak macropteous adalah untuk menyebarkan dan meletakkan telur pada tanaman yang tumbuh dan bereproduksi. Setelah tanaman mulai menua lebih banyak macropters diproduksi dan siklus berlanjut.
Gejala Serangan Wereng Jagung
Wereng jagung menyerang tanaman dengan
cara menghisap cairan tanaman inangnya, gejala serangan pada daun tampak bercak
bergaris kuning, garis-garis pendek terputus-putus sampai bersambung terutama
pada tulang daun kedua dan ketiga. Daun tampak bergaris kuning panjang, begitu
pula pada pelepah daun. Pertumbuhan tanaman akan terhambat, menjadi kerdil,
tanaman menjadi layu dan kering (hopper burn). Selain itu hama ini juga sebagai
vektor untuk beberapa jenis virus diantaranya MMV (Maize Mosaic Rhabdo
virus) dan MStV (Maize Tenui virus)
Pengendalian Serangan Wereng Jagung
Pengendalian hama ini dapat dilakukan
dengan berbagai cara diantaranya :
- Pengamatan secara rutin di area pertanaman jagung
- Menanam varietas yang
tahan
- Tanam serempak untuk
meminimalkan serangan.
- Membersihkan
rumput-rumput yang mejadi inang alternative dari hama ini.
- Mengurangi penggunaan
pupuk Nitrogen (urea dan ZA) karena penggunaan pupuk nitrogen yang tinggi dapat
menyebabkan hama ini berkembang dengan cepat.
- Jarak tanam jangan
terlalu rapat, untuk menjaga sirkulasi udara
- Jika serangan tinggi
lakukan pengendalian dengan cara kimia, gunakan pestisida yang tepat salah
satunya dengan menggunakan insektisida berbahan aktif pimetrozin 50 % yang
bersifat sistemik dengan cara menghambat aktivitas makan serangga.
Oleh : Sri Hadiawati, SP.
Referensi :
https://www.pejuangpangan.com/2019/02/mewaspadai-serangan-wereng-jagung.html
picture by
srihadiawati_bpppare