Senin, 07 November 2022

HAMA WERENG JAGUNG


Wereng Jagung (Peregrinus Maidis Ashm) adalah salah satu hama minor di tanaman jagung, namun keberadaan patut diwaspadai karena potensi kehilangan hasil yang disebabkan oleh serangan wereng ini bisa mencapai 70 %, hal ini disebabkan wereng ini menghisap cairan tanaman sehingga menyebabkan daun mengering dan bisa menyebabkan tanaman menjadi kerdil dan tidak menghasilkan tongkol yang sempurna selain itu hama ini juga diketahui sebagai vektor beberapa jenis virus diantaranya MMV (Maize Mosaic Rhabdovirus) dan MStV (Maize Tenui virus) , walaupun belum ada laporan tentang kerugian yang serius karena serangan hama ini karena umunya serangannya pada umur 47 - 73 HST yang mana telah melewati fase kritis tanaman jagung, sehingga kerugian yang disebabkan tidak terlalu signifikan, walaupun beberapa tahun terakhir ada laporan bahwa wereng jagung juga ditemukan pada fase vegetatif 15 - 42 HST.

Wereng jagung Peregrinus maidis Ashmead adalah serangga hama yang hidup pada tanaman jagung. Serangga ini mempunyai nama synonim antara lain Delphax maidis Ashmead, Delphax psylloides Lethierryi, dan Pundaluoya simplicia Distant. Serangga ini masuk dalam famili Delphacidae, genus Peregrinus dan specsies maidis. Serangga ini tidak saja merusak tanaman jagung dan sorgum, tetapi juga dapat menularkan penyakit sejenis virus yang disebut penyakit MMV (maize mosaic rhabdovirus) dan penyakit MStV (maize tenuivirus), Serangga ini mempunyai banyak inang walupun niche utamanya adalah jagung dan sorgum. Serangga ini dapat juga bertahan hidup pada beberapa rerumputan dari jenis rumput navier Pennisetum purpureum Schumach, rumput vasey Paspalum urvillei Steud, tanaman tebu Saccharum officinarum L, dan sorgum. Serangga ini ditemukan juga pada rumput coarse.

 

Siklus Hidup Wereng Jagung

 Wereng Jagung betina bertelur 20-30 telur di dalam pelepah daun tanaman inang mereka. Dalam kondisi normal, perkembangan dari penetasan ke dewasa membutuhkan waktu sekitar 20 hari. Namun, perkembangan nimfa wereng jagung sangat tergantung pada suhu. Perkembangan normal terjadi antara 20-27 ° C dan memiliki lima tahap nimfa (remaja). Suhu ekstrem (di bawah 10 ° C dan di atas 30 ° C) mengakibatkan hilangnya instar kelima dan ganti kulit langsung dari instar keempat ke dewasa, tetapi perkembangan penuh hingga 74 hari. Wereng jagung ini mampu mereproduksi sepanjang tahun, tetapi perkembangannya dipengaruhi oleh perubahan suhu. Faktor lain yang mempengaruhi perkembangan adalah ketersediaan nutrisi. Peningkatan kadar pupuk Nitrogen dalam jaringan tanaman menghasilkan waktu pengembangan yang lebih singkat, lebih banyak telur yang dihasilkan, dan peningkatan tingkat kelangsungan hidup nimfa dan Imago.

Mirip dengan wereng lainnya, wereng jagung juga memiliki dua jenis wereng dewasa yang berbeda dapat berkembang tergantung pada kondisi lingkungan, yaitu:

  1. Bracchypterous, memiliki sayap pendek (kurang berkembang) dan paling sering berkembang sebagai respon terhadap tanaman inang berkualitas tinggi,kepadatan populasi rendah dan tidakperlu penyebaran
  2. Macropterous, telah mengembangkan sayap sepenuhnya dan muncul ketika diperlukan penyebaran karena kepadatan populasi yang tinggi atau tanaman berkualitasrendah. Tujuan macropter, lebih banyak macropteous adalah untuk menyebarkan dan meletakkan telur pada tanaman yang tumbuh dan bereproduksi. Setelah tanaman mulai menua lebih banyak macropters diproduksi dan siklus berlanjut.


Gejala Serangan Wereng Jagung

Wereng jagung menyerang tanaman dengan cara menghisap cairan tanaman inangnya, gejala serangan pada daun tampak bercak bergaris kuning, garis-garis pendek terputus-putus sampai bersambung terutama pada tulang daun kedua dan ketiga. Daun tampak bergaris kuning panjang, begitu pula pada pelepah daun. Pertumbuhan tanaman akan terhambat, menjadi kerdil, tanaman menjadi layu dan kering (hopper burn). Selain itu hama ini juga sebagai vektor untuk beberapa jenis virus diantaranya MMV (Maize Mosaic Rhabdo virus) dan MStV (Maize Tenui virus)

 

Pengendalian Serangan Wereng Jagung

 Pengendalian hama ini dapat dilakukan dengan berbagai cara diantaranya :

  1. Pengamatan secara rutin di area pertanaman jagung
  2. Menanam varietas yang tahan
  3. Tanam serempak untuk meminimalkan serangan.
  4. Membersihkan rumput-rumput yang mejadi inang alternative dari hama ini.
  5. Mengurangi penggunaan pupuk Nitrogen (urea dan ZA) karena penggunaan pupuk nitrogen yang tinggi dapat menyebabkan hama ini berkembang dengan cepat.
  6. Jarak tanam jangan terlalu rapat, untuk menjaga sirkulasi udara
  7. Jika serangan tinggi lakukan pengendalian dengan cara kimia, gunakan pestisida yang tepat salah satunya dengan menggunakan insektisida berbahan aktif pimetrozin 50 % yang bersifat sistemik dengan cara menghambat aktivitas makan serangga.

 

Oleh : Sri Hadiawati, SP.

Referensi :

https://www.pejuangpangan.com/2019/02/mewaspadai-serangan-wereng-jagung.html

picture by srihadiawati_bpppare

Jumat, 23 September 2022

PENYUSUNAN ERDKK PUPUK BERSUBSIDI TAHUN 2023 DI WILAYAH KECAMATAN PARE

Poktan Sido Maju Semanding Tertek

Saat ini semua kelompok tani di wilayah Kecamatan Pare sedang melaksanakan kegiatan pembaharuan data anggotanya dalam rangka penyusunan e RDKK pupuk bersubsidi tahun 2023. Sosialisasi dimasing-masing kelompok tani  dihadiri oleh PPL setempat dan Perangkat Desa. Pada pertemuan tersebut disampaikan oleh PPL terkait peraturan baru terkait pupuk bersubsidi. Petani yang ingin memperoleh pupuk bersubsidi harus mengajukan terlebih dahulu dengan syarat tergabung dalamkelompok tani yang disusun dalam Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK).

Jumat, 16 September 2022

KOORDINASI PENYUSUNAN RDKK PUPUK BERSUBSIDI TAHUN 2023 DI KECAMATAN PARE

 OLEH : SRI HADIAWATI, SP


Pupuk  Bersubsidi  adalah  pupuk  yang  pengadaan  dan penyalurannya mendapat subsidi dari Pemerintah untuk kebutuhan petani yang dilaksanakan atas dasar program Pemerintah di sektor pertanian.  

Pengajuan Rencana Defitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) Pupuk bersubsidi berdasarkan aturan yang baru yaitu Permentan No 10 Tahun 2022 tentang Tata Cara Penetapan Alokasi dan Harga Eceran Tertinggi Pupuk Bersubsidi Sektor Pertanian. Jenis pupuk yang disubsidi hanya Urea dan NPK saja dan kuotanya dibatasi oleh rekomendasi dan alokasi.

Petani yang bisa mengajukan kebutuhan pupuk bersubsidi adalah petani yang melakukan  usahatani  di  bidang  tanaman  pangan, hortikultura, dan perkebunan dan tergabung dalam Kelompok Tani yang terdaftar dalam Sistem Penyuluhan Pertanian (Simluhtan) serta Dukcapil dengan luas lahan maksimal 2 hektar. 

Ada 9 komoditas pertanian yang bisa diajukan kebutuhan pupuk subsidinya yaitu ; 

  • Sektor Tanaman Pangan : padi, jagung, dan kedelai
  • Sektor Tanaman Hortikultura : Cabai, Bawang Merah, dan Bawang Putih
  • Sektor Tanaman Perkebunan : Tebu Rakyat, Kakao, dan Kopi
Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Kediri menyelenggarakan Kegiatan Sosialisasi penyusunan RDKK pupuk bersubsidi Tahun 2023 di masing-masing kecamatan. Di Kecamatan Pare kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 15 September 2022 di Kantor BPP Pare. Tujuan dilakukan sosialisasi ini adalah agar semua petani tahu tentang kebijakan yang baru terkait pengajuan pupuk bersubsidi dan memberikan arahan dan persyaratan untuk pengajuan RDKK pupuk bersubsidi. Adapun pengajuan RDKK pupuk bersubsidi tahun 2023 yang dikoordinir oleh kelompok tani harus disertai dengan persyaratan sebagai berikut :
  1. Form pengajuan petani yang ditandatangani oleh petani dan Poktan
  2. Fotocopy KTP dan atau KK
  3. Fotocopy bukti garap berupa SPPT PBB/Kuitansi sewa


Senin, 07 Februari 2022

PENYAKIT BUSUK BATANG PADA TANAMAN JAGUNG

 OLEH : SRI HADIAWATI, SP


Penyakit muncul beberapa minggu setelah bulu jagung terbentuk. Tanaman yang sakit tiba-tiba mati, daun layu, kering, dan tampak berwarna hijau keabu-abuan. Buku batang bawah berwarna coklat pucat. Bila dibelah, isi batang bawah terpecah-pecah, longgar dan mudah-remuk, tetapi serabut pembuluh terlihat utuh. Selain itu, terlihat tanda khas berupa piknidia kecil, coklat gelap sampai hitam, berkelompok di bawah epidermis dekat buku batang. Miselium putih dapat dilihat tumbuh di permukaan batang.

Penyakit busuk batang jagung dapat menyebabkan kerusakan pada varietas rentan hingga 65 %. Tanaman jagung terserang penyakit ini tampak layu atau kering seluruh daunnya. Umumnya gejala tersebut terjadi pada stadia generatif yaitu setelah pembungaan. Pangkal batang yang  terserang berubah warna dari hijau menjadi kecoklatan. Bagian dalam batang busuk sehingga mudah rebah serta bagian kulit luarnya tipis. Pangkal batang terserang akan memperlihatkan warna merah jambu, merah kecoklatan atau coklat. Penyakit busuk batang disebabkan oleh delapan spesies cendawan seperti: Colletotrichum graminearumDiplodia maydis, Gibberella zeae, Fusarium moniliforme, Macrophomina phaseolina, Pythium apannidermatum, Cephalosporium maydis, dan C.acremonium.

Cendawan patogen penyebab penyakit ini memproduksi konidia pada permukaan tanaman inangnya. Konidia dapat disebarkan oleh angin, air hujan ataupun serangga. Pada waktu tidak ada tanaman, cendawan dapat bertahan pada sisa-sisa tanaman terinfeksi dalam fase hifa atau piknidia dan paritesia yang berisi spora. Pada kondisi yang sesuai untuk perkembangannya spora akan keluar dari piknidia atau paritesia. Spora pada permukaan tanaman jagung akan tumbuh lalu menginfeksi melalui akar ataupun pangkal batang. Infeksi awal dapat melalui luka atau membentuk sejenis apresoria serta mampu masuk ke jaringan tanaman. Spora atau konidia yang terbawa angin dapat menginfeksi ke tongkol jagung. Akibat lebih lanjut biji terinfeksi dan jika ditanam dapat menyebabkan penyakit busuk batang.

Pengendalian penyakit ini dengan menanam varietas tahan,melakukan pergiliran tanaman, pemupukan berimbang serta menghindari pemberian N tinggi dan rendah K. Pengaturan drainase yang baik dan menggunakan agen hayati Trichoderma sp yaitu cendawan yang bersifat antagonis terhadap cendawan Fusarium sp.

(http://nad.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php/info-teknologi/722-beberapa-penyakit-pada-tanaman-jagung-danpengendaliannya)


Kamis, 23 September 2021

4 LANGKAH SEHAT 5 SEMPURNA UNTUK PRODUKSI TANAMAN PADI

 Oleh : Sri Hadiawati, SP


Prakiraan Musim Hujan 2021/2022 pada 342 Zona Musim (ZOM) di Indonesia menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah diprakirakan mengalami Awal Musim Hujan 2021/2022 pada kisaran bulan Oktober dan November 2021 sebanyak 232 ZOM atau 67,8% dari 342 ZOM. Awal Musim Hujan 2021/2022 di sebagian besar daerah yaitu 157 ZOM (45,9%) diprakirakan maju, sedangkan wilayah lainnya diprakirakan sama terhadap rata-ratanya 132 ZOM (38,6%) dan mundur terhadap rata-ratanya sebanyak 53 ZOM (15,5%) (https://www.bmkg.go.id/iklim/prakiraan-musim.bmkg). 

Senin, 20 September 2021

KEGIATAN PENYULUHAN PERTANIAN

Edisi Sinau Bareng Kelompok Tani

ASAP CAIR

BAHAN ALTERNATIF PESTISIDA ALAMI

(By : Sri Hadiawati, SP)

Edisi Sinau Bareng Kelompok Tani dalam rangka kegiatan penyuluhan pertanian kali ini dilaksanakan di Poktan Tani Maju I Desa Pelem. Di masa pandemi ini kegiatan penyuluhan pertanian terus berlangsung dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Penyuluhan kali ini bertema tentang Asap Cair : Bahan alternatif pestisida alami.  Salah satu alternatif teknologi pengendalian OPT adalah penggunaan pestisida nabati yang lebih alami diantaranya asap cair. Alam sebenarnya telah menyediakan bahan-bahan alami yang dapat dimanfaatkan untuk menggulangi serangan opt pada tanaman budidaya. Oleh sebab itu, aplikasi asap cair perlu mendaptkan perhatian untuk dikembangkan karena jenis pestisida ini mudah terurai dilingkungan dan kurang beracun terhadap jasad berguna.

 Asap cair berfungsi sebagai hormon atau enzim dalam proses perbaikan lahan, dimana nutrisi tanah bisa dapat diserap lebih banyak serta berperan sebagai katalis yang mempercepat reaksi lahan tanpa ikut bereaksi. Dengan demikian perbaikan lahan lebih cepat dan sempurna. Asap cair efektif sebagai pupuk, dengan menyemprotkan asap cair konsentrasi 1:1000 diatas permukaan daun pada tanaman muda. Sedangkan pada tanaman dewasa, larutan asap cair disiramkan disekitar perakaran setiap dua minggu.

Penggunaan pestisida nabati asap cair perlu selalu dipromosikan dalam kegiatan perlindungan tanaman. Salah satu upaya pemasyarakatan tersebut adalah dengan penyebarluasan informasi melalui kegiatan penyuluhan pertanian. Untuk mengetahui keberhasilan kegiatan penyuluhan pertanian ditinjau dari peningkatan pengetahuan petani tentang asap cair bahan alternatif pestisida alami maka diadakan evaluasi penyuluhan pertanian.

Salah satu yang dapat dimanfaatkan yaitu limbah tempurung kelapa untuk pembuatan asap cair. Asap cair yang lebih dikenal dengan wood vinegar/liquid smoke merupakan hasil kondensasi pengembunan dari uap hasil pembakaran secara langsung maupun tidak langsung dari bahan-bahan yang banyak mengandung lignin selulosa serta senyawa karbon lainnya. Bahan baku yang banyak digunakan antara lain berbagai macam jenis kayu, bongkol kelapa sawit, tempurung kelapa, sekam, ampas atau serbuk gergaji kayu dan lain-lain.

Selain mempunyai kandungan senyawa asam dan fenol ternyata asap cair tempurung kelapa mempunyai senyawa bioaktif antifeedant. Senyawa inilah yang dibutuhkan oleh tanaman untuk melindungi dirinya dari serangan hama (berfungsi sebagai pengendali hama secara alami), mikroba dan organisme lainnya. Senyawa bioaktif antifeedant ini bersifat tidak membunuh, mengusir ataupun menjerat tetapi hanya bersifat menghambat makan. 
Pembuatan asap cair ini memanfaatkan metode pirolisis yaitu penguraian dengan bantuan panas tanpa adanya oksigen atau dengan jumlah oksigen yang terbatas. Proses pirolisis memiliki efisiensi pemanfaatan energi biomassa yang lebih baik dari pada proses pembakaran yang efisiensinya hanya 10%.

Asap cair juga dapat berfungsi sebagai hormon atau enzim dalam proses perbaikan lahan, dimana nutrisi tanah bisa dapat diserap lebih banyak serta berperan sebagai katalis yang mempercepat reaksi lahan tanpa ikut bereaksi. Dengan demikian perbaikan lahan lebih cepat dan sempurna.


Peralatan dan Bahan :

1.  Wadah pengarangan, ruang pembakaran, penampung tar/asap cair, destilator dapat dibuat dari Stainless steel atau drum besi yang dimodifikasi

2.  Pipa besi yang dimodifikasi

3.  Alat pemanas dapat berupa blower dan atau dapat menggunakan sekam/arang

4.  Pipa PVC

5.  Pompa air

6.  Tangki air dan penyangganya

Cara Pembuatan :

  1. Sebelum dimasukkan ke reaktor pirolisis, terlebih dahulu bahan dibersihkan kemudian dipotong dengan ukuran lebih kecil agar luas permukaan pembakaran menjadi lebih luas sehingga proses dapat berjalan lebih cepat
  2. Selanjutnya dilakukan pengeringan dengan cara penjemuran, untuk mengurangi kadar air pada bahan
  3. Kemudian dilanjutkan dengan metode Pirolisis. Reaksi ini berlangsung pada reaktor pirolisator yang bekerja pada temperatur 300-650°C selama 8 jam pembakaran
  4. Asap hasil pembakaran dikondensasi dengan kondensor yang berupa koil melingkar
  5. Asap cair yang diperoleh dari kondensasi asap pada proses pirolisis diendapkan selama seminggu untuk mengendapkan tar yang merupakan hasil sampingan dari asap cair. Asap cair siap digunakan sebagai bahan pestisida.

Aplikasi

  1.  Asap cair dapat mengendalikan hama Thrips dan Apids pada tanaman cabai, hama ulat pada tanaman tomat dan padi, hama burung serta mampu mengendalikan antraknose dan penyakit layu dengan dosis 500 ml per tangki (14 liter)
  2. Asap cair efektif mengendalikan hama belalang dan ulat Prodenia litura, walang sangit, hama kutu putih (Ceratovacuna lanigera),penyakit blendok (busuk batang Phytophthera sp) pada tanaman jeruk keprok dengan perbandingan asap cair 1:15
  3.  Asap cair efektif mengendalikan rayap, nyamuk, semut dengan dosis 15-20 cc/lt setiap tiga hari sekali pada tempat yang terserang
  4. Asap cair efektif mempercepat pertumbuhan tanaman secara vegetatif, dengan dosis 20 cc/lt setiap 2 minggu sekali disemprotkan kedaun atau disiram melalui akar
  5. Asap cair efektif sebagai pupuk, dengan menyemprotkanasap cair konsentrasi 1:1000 diataspermukaan daun pada tanaman muda. Sedangkan pada tanaman dewasa, larutan asap cair disiramkan disekitar perakaran setiap dua minggu.

Referensi :
BBPP Ketindan Malang


Kamis, 29 Juli 2021

WASPADA HAMA WERENG PADA TANAMAN JAGUNG

Oleh : Sri Hadiawati, SP

Mengenal Hama Wereng Jagung

Wereng Jagung (Peregrinus Maidis Ashm) adalah salah satu hama minor di tanaman jagung, namun keberadaan patut diwaspadai karena potensi kehilangan hasil yang disebabkan oleh serangan wereng ini bisa mencapai 70 %, hal ini disebabkan wereng ini menghisap cairan tanaman sehingga menyebabkan daun mengering dan bisa menyebabkan tanaman menjadi kerdil dan tidak menghasilkan tongkol yang sempurna selain itu hama ini juga diketahui sebagi vektor beberapa jenis virus diantaranya MMV (Maize Mosaic Rhabdovirus) dan MStV (Maize Tenui virus) , walaupun belum ada laporan tentang kerugian yang serius karena serangan hama ini karena umunya serangannya pada umur 47 - 73 HST yang mana telah melewati fase kritis tanaman jagung, sehingga kerugian yang disebabkan tidak terlalu signifikan, walaupun beberapa tahun terakhir ada laporan bahwa wereng jagung juga ditemukan pada fase vegetatif 15 - 42 HST.
Wereng jagung Peregrinus maidis Ashmead adalah serangga hama yang hidup pada tanaman jagung. Serangga ini mempunyai nama synonim antara lain Delphax maidis Ashmead, Delphax psylloides Lethierryi, dan Pundaluoya simplicia Distant. Serangga ini masuk dalam famili Delphacidae, genus Peregrinus dan specsies maidis. Serangga ini tidak saja merusak tanaman jagung dan sorgum, tetapi juga dapat menularkan penyakit sejenis virus yang disebut penyakit MMV (maize mosaic rhabdovirus) dan penyakit MStV (maize tenuivirus), Serangga ini mempunyai banyak inang walupun niche utamanya adalah jagung dan sorgum. Serangga ini dapat juga bertahan hidup pada beberapa rerumputan dari jenis rumput navier Pennisetum purpureum Schumach, rumput vasey Paspalum urvillei Steud, tanaman tebu Saccharum officinarum L, dan sorgum. Serangga ini ditemukan juga pada rumput coarse.

Siklus Hidup Wereng Jagung

Wereng Jagung betina bertelur 20-30 telur di dalam pelepah daun tanaman inang mereka. Dalam kondisi normal, perkembangan dari penetasan ke dewasa membutuhkan waktu sekitar 20 hari. Namun, perkembangan nimfa wereng jagung sangat tergantung pada suhu. Perkembangan normal terjadi antara 20-27 ° C dan memiliki lima tahap nimfa (remaja). Suhu ekstrem (di bawah 10 ° C dan di atas 30 ° C) mengakibatkan hilangnya instar kelima dan ganti kulit langsung dari instar keempat ke dewasa, tetapi perkembangan penuh hingga 74 hari. Wereng jagung ini mampu mereproduksi sepanjang tahun, tetapi perkembangannya dipengaruhi oleh perubahan suhu. Faktor lain yang mempengaruhi perkembangan adalah ketersediaan nutrisi. Peningkatan kadar pupuk Nitrogen dalam jaringan tanaman menghasilkan waktu pengembangan yang lebih singkat, lebih banyak telur yang dihasilkan, dan peningkatan tingkat kelangsungan hidup nimfa dan Imago.

Gejala Serangan Wereng Jagung

Wereng jagung menyerang tanaman dengan cara menghisap cairan tanaman inangnya, gejala serangan pada daun tampak bercak bergaris kuning, garis-garis pendek terputus-putus sampai bersambung terutama pada tulang daun kedua dan ketiga. Daun tampak bergaris kuning panjang, begitu pula pada pelepah daun. Pertumbuhan tanaman akan terhambat, menjadi kerdil, tanaman menjadi layu dan kering (hopper burn). Selain itu hama ini juga sebagai vektor untuk beberapa jenis virus diantaranya MMV (Maize Mosaic Rhabdo virus) dan MStV (Maize Tenui virus)

Pengendalian Serangan Wereng Jagung

Pengendalian hama ini dapat dilakukan dengan berbagai cara diantaranya :
  1. Menanam varietas yang tahan
  2. Tanam serempak untuk meminimalkan serangan.
  3. Membersihkan rumput-rumput yang mejadi inang alternative dari hama ini.
  4. Mengurangi penggunaan pupuk Nitrogen (urea dan ZA) karena penggunaan pupuk nitrogen yang tinggi dapat menyebabkan hama ini berkembang dengan cepat.
  5. Jarak tanam jangan terlalu rapat, untuk menjaga sirkulasi udara
  6. Jika serangan tinggi lakukan pengendalian dengan cara kimia, gunakan pestisida yang tepat salah satunya dengan menggunakan insektisida berbahan aktif pimetrozin 50 % yang bersifat sistemik dengan cara menghambat aktivitas makan serangga.

by Sri Hadiawati, SP.

Referensi :
https://www.pejuangpangan.com/2019/02/mewaspadai-serangan-wereng-jagung.html
picture by srihadiawati_bpppare