Kamis, 24 Juli 2025

PENYUSUNAN ERDKK PUPUK BERSUBSIDI KECAMATAN PARE MT 2026

Oleh : Sri Hadiawati, SP.


Kegiatan sosialisasi penyusunan ERDKK pupuk bersubsidi Kecamatan Pare MT 2026 dilaksanakan pada tanggal 4 Juni 2025 di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP Pare) dan dihadiri oleh KJF Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Kediri. Petani yang diundang merupakan pengurus poktan yang untuk selanjutnya informasi tersebut disampaikan kepada  seluruh petani diwilayah poktan masing-masing didampingi oleh PPL WDB. 

Rabu, 24 Juli 2024

SOSIALISASI PENYUSUNAN RDKK PUPUK BERSUBSIDI TAHUN 2025 DAN TATA CARA PENEBUSAN PUPUK BERSUBSIDI TAHUN 2024 DI WILAYAH KECAMATAN PARE

Oleh : Sri Hadiawati, SP.

Kegiatan pembaharuan data anggota petani dalam rangka penyusunan e RDKK pupuk bersubsidi tahun 2025 dilaksanakan dibeberapa wilayah kelompok tani. Diawali pelaksanaan sosialisasi di BPP Pare dan dilanjutkan di masing-masing kelompok tani  dihadiri oleh PPL setempat dan Perangkat Desa. Pada pertemuan tersebut disampaikan oleh PPL terkait peraturan baru terkait pupuk bersubsidi. Petani yang ingin memperoleh pupuk bersubsidi harus mengajukan terlebih dahulu dengan syarat tergabung dalam kelompok tani yang disusun dalam Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK).

Selasa, 28 Mei 2024

UPAYA MENDORONG PENINGKATAN PRODUKSI JAGUNG DI WILAYAH KECAMATAN PARE MELALUI KEGIATAN BANTUAN BENIH JAGUNG KEPADA POKTAN

 OLEH : SRI HADIAWATI, SP

Poktan Sukamaju Dusun Templek Desa Darungan

Dalam rangka penguatan ekosistem pangan dan penguatan pangan nasional, Pemerintah terus mencari solusi untuk meningkatkan produksi jagung guna memenuhi kebutuhan jagung dalam negeri,. Pemerintah telah menyiapkan kebijakan terkait percepatan pengembangan jagung dengan menetapkan strategi pengembangan jagung menuju swasembada berkelanjutan melalui Roadmap Jagung 2022-2024.  Upaya peningkatan produksi jagung di dalam negeri dapat ditempuh melalui perluasan areal tanam dan peningkatan produktivitas

Rabu, 07 Februari 2024

GERAKAN PENGENDALIAN HAMA ULAT GRAYAK SPODOPTHERA FRUGIPERDA DI POKTAN TANI MAJU SATU DUSUN CANGKRING DESA PELEM

Oleh : Sri Hadiawati, SP


Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu komoditas tanaman yang memiliki peran penting untuk pemenuhan kebutuhan pangan manusia. Jagung juga banyak dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuatan pakan ternak. Hal ini merupakan peluang bagi petani untuk mengembangkan budidaya tanaman jagung agar produksi meningkat. Salah satu kendala dalam budidaya tanaman jagung adalah adanya organisme pengganggu tumbuhan (OPT) diantaranya ulat grayak Spodopthera frugiperda.

Kamis, 12 Oktober 2023

SOSIALISASI BANTUAN PUPUK ORGANIK ASAM HUMAT DI POKTAN TANI MAKMUR II DESA PELEM

 OLEH : SRI HADIAWATI, SP


Asam humat adalah salah satu dari tiga bahan penyusun zat humat yang merupakan komponen pembentuk humus. Humus itu sendiri adalah tanah yang memiliki tingkat kesuburan tinggi yang terbentuk dari pelapukan bahan organik, seperti daun dan batang pohon. Asam humat diperoleh melalui proses ekstraksi humus.

Asam humat dapat memperbaiki sifat kimia, fisik, dan biologi tanah. Sehingga, pengaplikasian asam humat dapat memperbaiki kondisi tanah yang sudah terdegradasi dan meminimalisir kemungkinan kehilangan nutrisi dari pupuk organik akibat pencucian atau penguapan.

Kamis, 23 Februari 2023

Pembuatan Biosaka Bersama Petani Poktan Margo Mulyo Desa Darungan Di BPP Pare

Oleh : Sri Hadiawati, SP


Kegiatan penyuluhan dalam upaya transfer informasi dan teknologi senantiasa dilakukan oleh Penyuluh Pertanian BPP Pare salah satunya informasi dan teknologi tentang BIOSAKA.
Biosaka merupakan salah satu metode pertanian ramah lingkungan dengan teknologi mudah dan murah yang dapat diterapkan oleh petani sebagai upaya menekan biaya produksi dan meningkatkan produktivitas.

Senin, 19 Desember 2022

Senin, 07 November 2022

HAMA WERENG JAGUNG


Wereng Jagung (Peregrinus Maidis Ashm) adalah salah satu hama minor di tanaman jagung, namun keberadaan patut diwaspadai karena potensi kehilangan hasil yang disebabkan oleh serangan wereng ini bisa mencapai 70 %, hal ini disebabkan wereng ini menghisap cairan tanaman sehingga menyebabkan daun mengering dan bisa menyebabkan tanaman menjadi kerdil dan tidak menghasilkan tongkol yang sempurna selain itu hama ini juga diketahui sebagai vektor beberapa jenis virus diantaranya MMV (Maize Mosaic Rhabdovirus) dan MStV (Maize Tenui virus) , walaupun belum ada laporan tentang kerugian yang serius karena serangan hama ini karena umunya serangannya pada umur 47 - 73 HST yang mana telah melewati fase kritis tanaman jagung, sehingga kerugian yang disebabkan tidak terlalu signifikan, walaupun beberapa tahun terakhir ada laporan bahwa wereng jagung juga ditemukan pada fase vegetatif 15 - 42 HST.

Wereng jagung Peregrinus maidis Ashmead adalah serangga hama yang hidup pada tanaman jagung. Serangga ini mempunyai nama synonim antara lain Delphax maidis Ashmead, Delphax psylloides Lethierryi, dan Pundaluoya simplicia Distant. Serangga ini masuk dalam famili Delphacidae, genus Peregrinus dan specsies maidis. Serangga ini tidak saja merusak tanaman jagung dan sorgum, tetapi juga dapat menularkan penyakit sejenis virus yang disebut penyakit MMV (maize mosaic rhabdovirus) dan penyakit MStV (maize tenuivirus), Serangga ini mempunyai banyak inang walupun niche utamanya adalah jagung dan sorgum. Serangga ini dapat juga bertahan hidup pada beberapa rerumputan dari jenis rumput navier Pennisetum purpureum Schumach, rumput vasey Paspalum urvillei Steud, tanaman tebu Saccharum officinarum L, dan sorgum. Serangga ini ditemukan juga pada rumput coarse.

 

Siklus Hidup Wereng Jagung

 Wereng Jagung betina bertelur 20-30 telur di dalam pelepah daun tanaman inang mereka. Dalam kondisi normal, perkembangan dari penetasan ke dewasa membutuhkan waktu sekitar 20 hari. Namun, perkembangan nimfa wereng jagung sangat tergantung pada suhu. Perkembangan normal terjadi antara 20-27 ° C dan memiliki lima tahap nimfa (remaja). Suhu ekstrem (di bawah 10 ° C dan di atas 30 ° C) mengakibatkan hilangnya instar kelima dan ganti kulit langsung dari instar keempat ke dewasa, tetapi perkembangan penuh hingga 74 hari. Wereng jagung ini mampu mereproduksi sepanjang tahun, tetapi perkembangannya dipengaruhi oleh perubahan suhu. Faktor lain yang mempengaruhi perkembangan adalah ketersediaan nutrisi. Peningkatan kadar pupuk Nitrogen dalam jaringan tanaman menghasilkan waktu pengembangan yang lebih singkat, lebih banyak telur yang dihasilkan, dan peningkatan tingkat kelangsungan hidup nimfa dan Imago.

Mirip dengan wereng lainnya, wereng jagung juga memiliki dua jenis wereng dewasa yang berbeda dapat berkembang tergantung pada kondisi lingkungan, yaitu:

  1. Bracchypterous, memiliki sayap pendek (kurang berkembang) dan paling sering berkembang sebagai respon terhadap tanaman inang berkualitas tinggi,kepadatan populasi rendah dan tidakperlu penyebaran
  2. Macropterous, telah mengembangkan sayap sepenuhnya dan muncul ketika diperlukan penyebaran karena kepadatan populasi yang tinggi atau tanaman berkualitasrendah. Tujuan macropter, lebih banyak macropteous adalah untuk menyebarkan dan meletakkan telur pada tanaman yang tumbuh dan bereproduksi. Setelah tanaman mulai menua lebih banyak macropters diproduksi dan siklus berlanjut.


Gejala Serangan Wereng Jagung

Wereng jagung menyerang tanaman dengan cara menghisap cairan tanaman inangnya, gejala serangan pada daun tampak bercak bergaris kuning, garis-garis pendek terputus-putus sampai bersambung terutama pada tulang daun kedua dan ketiga. Daun tampak bergaris kuning panjang, begitu pula pada pelepah daun. Pertumbuhan tanaman akan terhambat, menjadi kerdil, tanaman menjadi layu dan kering (hopper burn). Selain itu hama ini juga sebagai vektor untuk beberapa jenis virus diantaranya MMV (Maize Mosaic Rhabdo virus) dan MStV (Maize Tenui virus)

 

Pengendalian Serangan Wereng Jagung

 Pengendalian hama ini dapat dilakukan dengan berbagai cara diantaranya :

  1. Pengamatan secara rutin di area pertanaman jagung
  2. Menanam varietas yang tahan
  3. Tanam serempak untuk meminimalkan serangan.
  4. Membersihkan rumput-rumput yang mejadi inang alternative dari hama ini.
  5. Mengurangi penggunaan pupuk Nitrogen (urea dan ZA) karena penggunaan pupuk nitrogen yang tinggi dapat menyebabkan hama ini berkembang dengan cepat.
  6. Jarak tanam jangan terlalu rapat, untuk menjaga sirkulasi udara
  7. Jika serangan tinggi lakukan pengendalian dengan cara kimia, gunakan pestisida yang tepat salah satunya dengan menggunakan insektisida berbahan aktif pimetrozin 50 % yang bersifat sistemik dengan cara menghambat aktivitas makan serangga.

 

Oleh : Sri Hadiawati, SP.

Referensi :

https://www.pejuangpangan.com/2019/02/mewaspadai-serangan-wereng-jagung.html

picture by srihadiawati_bpppare

Jumat, 23 September 2022

PENYUSUNAN ERDKK PUPUK BERSUBSIDI TAHUN 2023 DI WILAYAH KECAMATAN PARE

Poktan Sido Maju Semanding Tertek

Saat ini semua kelompok tani di wilayah Kecamatan Pare sedang melaksanakan kegiatan pembaharuan data anggotanya dalam rangka penyusunan e RDKK pupuk bersubsidi tahun 2023. Sosialisasi dimasing-masing kelompok tani  dihadiri oleh PPL setempat dan Perangkat Desa. Pada pertemuan tersebut disampaikan oleh PPL terkait peraturan baru terkait pupuk bersubsidi. Petani yang ingin memperoleh pupuk bersubsidi harus mengajukan terlebih dahulu dengan syarat tergabung dalamkelompok tani yang disusun dalam Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK).

Jumat, 16 September 2022

KOORDINASI PENYUSUNAN RDKK PUPUK BERSUBSIDI TAHUN 2023 DI KECAMATAN PARE

 OLEH : SRI HADIAWATI, SP


Pupuk  Bersubsidi  adalah  pupuk  yang  pengadaan  dan penyalurannya mendapat subsidi dari Pemerintah untuk kebutuhan petani yang dilaksanakan atas dasar program Pemerintah di sektor pertanian.  

Pengajuan Rencana Defitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) Pupuk bersubsidi berdasarkan aturan yang baru yaitu Permentan No 10 Tahun 2022 tentang Tata Cara Penetapan Alokasi dan Harga Eceran Tertinggi Pupuk Bersubsidi Sektor Pertanian. Jenis pupuk yang disubsidi hanya Urea dan NPK saja dan kuotanya dibatasi oleh rekomendasi dan alokasi.

Petani yang bisa mengajukan kebutuhan pupuk bersubsidi adalah petani yang melakukan  usahatani  di  bidang  tanaman  pangan, hortikultura, dan perkebunan dan tergabung dalam Kelompok Tani yang terdaftar dalam Sistem Penyuluhan Pertanian (Simluhtan) serta Dukcapil dengan luas lahan maksimal 2 hektar. 

Ada 9 komoditas pertanian yang bisa diajukan kebutuhan pupuk subsidinya yaitu ; 

  • Sektor Tanaman Pangan : padi, jagung, dan kedelai
  • Sektor Tanaman Hortikultura : Cabai, Bawang Merah, dan Bawang Putih
  • Sektor Tanaman Perkebunan : Tebu Rakyat, Kakao, dan Kopi
Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Kediri menyelenggarakan Kegiatan Sosialisasi penyusunan RDKK pupuk bersubsidi Tahun 2023 di masing-masing kecamatan. Di Kecamatan Pare kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 15 September 2022 di Kantor BPP Pare. Tujuan dilakukan sosialisasi ini adalah agar semua petani tahu tentang kebijakan yang baru terkait pengajuan pupuk bersubsidi dan memberikan arahan dan persyaratan untuk pengajuan RDKK pupuk bersubsidi. Adapun pengajuan RDKK pupuk bersubsidi tahun 2023 yang dikoordinir oleh kelompok tani harus disertai dengan persyaratan sebagai berikut :
  1. Form pengajuan petani yang ditandatangani oleh petani dan Poktan
  2. Fotocopy KTP dan atau KK
  3. Fotocopy bukti garap berupa SPPT PBB/Kuitansi sewa


Senin, 07 Februari 2022

PENYAKIT BUSUK BATANG PADA TANAMAN JAGUNG

 OLEH : SRI HADIAWATI, SP


Penyakit muncul beberapa minggu setelah bulu jagung terbentuk. Tanaman yang sakit tiba-tiba mati, daun layu, kering, dan tampak berwarna hijau keabu-abuan. Buku batang bawah berwarna coklat pucat. Bila dibelah, isi batang bawah terpecah-pecah, longgar dan mudah-remuk, tetapi serabut pembuluh terlihat utuh. Selain itu, terlihat tanda khas berupa piknidia kecil, coklat gelap sampai hitam, berkelompok di bawah epidermis dekat buku batang. Miselium putih dapat dilihat tumbuh di permukaan batang.

Penyakit busuk batang jagung dapat menyebabkan kerusakan pada varietas rentan hingga 65 %. Tanaman jagung terserang penyakit ini tampak layu atau kering seluruh daunnya. Umumnya gejala tersebut terjadi pada stadia generatif yaitu setelah pembungaan. Pangkal batang yang  terserang berubah warna dari hijau menjadi kecoklatan. Bagian dalam batang busuk sehingga mudah rebah serta bagian kulit luarnya tipis. Pangkal batang terserang akan memperlihatkan warna merah jambu, merah kecoklatan atau coklat. Penyakit busuk batang disebabkan oleh delapan spesies cendawan seperti: Colletotrichum graminearumDiplodia maydis, Gibberella zeae, Fusarium moniliforme, Macrophomina phaseolina, Pythium apannidermatum, Cephalosporium maydis, dan C.acremonium.

Cendawan patogen penyebab penyakit ini memproduksi konidia pada permukaan tanaman inangnya. Konidia dapat disebarkan oleh angin, air hujan ataupun serangga. Pada waktu tidak ada tanaman, cendawan dapat bertahan pada sisa-sisa tanaman terinfeksi dalam fase hifa atau piknidia dan paritesia yang berisi spora. Pada kondisi yang sesuai untuk perkembangannya spora akan keluar dari piknidia atau paritesia. Spora pada permukaan tanaman jagung akan tumbuh lalu menginfeksi melalui akar ataupun pangkal batang. Infeksi awal dapat melalui luka atau membentuk sejenis apresoria serta mampu masuk ke jaringan tanaman. Spora atau konidia yang terbawa angin dapat menginfeksi ke tongkol jagung. Akibat lebih lanjut biji terinfeksi dan jika ditanam dapat menyebabkan penyakit busuk batang.

Pengendalian penyakit ini dengan menanam varietas tahan,melakukan pergiliran tanaman, pemupukan berimbang serta menghindari pemberian N tinggi dan rendah K. Pengaturan drainase yang baik dan menggunakan agen hayati Trichoderma sp yaitu cendawan yang bersifat antagonis terhadap cendawan Fusarium sp.

(http://nad.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php/info-teknologi/722-beberapa-penyakit-pada-tanaman-jagung-danpengendaliannya)


Kamis, 23 September 2021

4 LANGKAH SEHAT 5 SEMPURNA UNTUK PRODUKSI TANAMAN PADI

 Oleh : Sri Hadiawati, SP


Prakiraan Musim Hujan 2021/2022 pada 342 Zona Musim (ZOM) di Indonesia menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah diprakirakan mengalami Awal Musim Hujan 2021/2022 pada kisaran bulan Oktober dan November 2021 sebanyak 232 ZOM atau 67,8% dari 342 ZOM. Awal Musim Hujan 2021/2022 di sebagian besar daerah yaitu 157 ZOM (45,9%) diprakirakan maju, sedangkan wilayah lainnya diprakirakan sama terhadap rata-ratanya 132 ZOM (38,6%) dan mundur terhadap rata-ratanya sebanyak 53 ZOM (15,5%) (https://www.bmkg.go.id/iklim/prakiraan-musim.bmkg). 

Senin, 20 September 2021

KEGIATAN PENYULUHAN PERTANIAN

Edisi Sinau Bareng Kelompok Tani

ASAP CAIR

BAHAN ALTERNATIF PESTISIDA ALAMI

(By : Sri Hadiawati, SP)

Edisi Sinau Bareng Kelompok Tani dalam rangka kegiatan penyuluhan pertanian kali ini dilaksanakan di Poktan Tani Maju I Desa Pelem. Di masa pandemi ini kegiatan penyuluhan pertanian terus berlangsung dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Penyuluhan kali ini bertema tentang Asap Cair : Bahan alternatif pestisida alami.  Salah satu alternatif teknologi pengendalian OPT adalah penggunaan pestisida nabati yang lebih alami diantaranya asap cair. Alam sebenarnya telah menyediakan bahan-bahan alami yang dapat dimanfaatkan untuk menggulangi serangan opt pada tanaman budidaya. Oleh sebab itu, aplikasi asap cair perlu mendaptkan perhatian untuk dikembangkan karena jenis pestisida ini mudah terurai dilingkungan dan kurang beracun terhadap jasad berguna.

 Asap cair berfungsi sebagai hormon atau enzim dalam proses perbaikan lahan, dimana nutrisi tanah bisa dapat diserap lebih banyak serta berperan sebagai katalis yang mempercepat reaksi lahan tanpa ikut bereaksi. Dengan demikian perbaikan lahan lebih cepat dan sempurna. Asap cair efektif sebagai pupuk, dengan menyemprotkan asap cair konsentrasi 1:1000 diatas permukaan daun pada tanaman muda. Sedangkan pada tanaman dewasa, larutan asap cair disiramkan disekitar perakaran setiap dua minggu.

Penggunaan pestisida nabati asap cair perlu selalu dipromosikan dalam kegiatan perlindungan tanaman. Salah satu upaya pemasyarakatan tersebut adalah dengan penyebarluasan informasi melalui kegiatan penyuluhan pertanian. Untuk mengetahui keberhasilan kegiatan penyuluhan pertanian ditinjau dari peningkatan pengetahuan petani tentang asap cair bahan alternatif pestisida alami maka diadakan evaluasi penyuluhan pertanian.

Salah satu yang dapat dimanfaatkan yaitu limbah tempurung kelapa untuk pembuatan asap cair. Asap cair yang lebih dikenal dengan wood vinegar/liquid smoke merupakan hasil kondensasi pengembunan dari uap hasil pembakaran secara langsung maupun tidak langsung dari bahan-bahan yang banyak mengandung lignin selulosa serta senyawa karbon lainnya. Bahan baku yang banyak digunakan antara lain berbagai macam jenis kayu, bongkol kelapa sawit, tempurung kelapa, sekam, ampas atau serbuk gergaji kayu dan lain-lain.

Selain mempunyai kandungan senyawa asam dan fenol ternyata asap cair tempurung kelapa mempunyai senyawa bioaktif antifeedant. Senyawa inilah yang dibutuhkan oleh tanaman untuk melindungi dirinya dari serangan hama (berfungsi sebagai pengendali hama secara alami), mikroba dan organisme lainnya. Senyawa bioaktif antifeedant ini bersifat tidak membunuh, mengusir ataupun menjerat tetapi hanya bersifat menghambat makan. 
Pembuatan asap cair ini memanfaatkan metode pirolisis yaitu penguraian dengan bantuan panas tanpa adanya oksigen atau dengan jumlah oksigen yang terbatas. Proses pirolisis memiliki efisiensi pemanfaatan energi biomassa yang lebih baik dari pada proses pembakaran yang efisiensinya hanya 10%.

Asap cair juga dapat berfungsi sebagai hormon atau enzim dalam proses perbaikan lahan, dimana nutrisi tanah bisa dapat diserap lebih banyak serta berperan sebagai katalis yang mempercepat reaksi lahan tanpa ikut bereaksi. Dengan demikian perbaikan lahan lebih cepat dan sempurna.


Peralatan dan Bahan :

1.  Wadah pengarangan, ruang pembakaran, penampung tar/asap cair, destilator dapat dibuat dari Stainless steel atau drum besi yang dimodifikasi

2.  Pipa besi yang dimodifikasi

3.  Alat pemanas dapat berupa blower dan atau dapat menggunakan sekam/arang

4.  Pipa PVC

5.  Pompa air

6.  Tangki air dan penyangganya

Cara Pembuatan :

  1. Sebelum dimasukkan ke reaktor pirolisis, terlebih dahulu bahan dibersihkan kemudian dipotong dengan ukuran lebih kecil agar luas permukaan pembakaran menjadi lebih luas sehingga proses dapat berjalan lebih cepat
  2. Selanjutnya dilakukan pengeringan dengan cara penjemuran, untuk mengurangi kadar air pada bahan
  3. Kemudian dilanjutkan dengan metode Pirolisis. Reaksi ini berlangsung pada reaktor pirolisator yang bekerja pada temperatur 300-650°C selama 8 jam pembakaran
  4. Asap hasil pembakaran dikondensasi dengan kondensor yang berupa koil melingkar
  5. Asap cair yang diperoleh dari kondensasi asap pada proses pirolisis diendapkan selama seminggu untuk mengendapkan tar yang merupakan hasil sampingan dari asap cair. Asap cair siap digunakan sebagai bahan pestisida.

Aplikasi

  1.  Asap cair dapat mengendalikan hama Thrips dan Apids pada tanaman cabai, hama ulat pada tanaman tomat dan padi, hama burung serta mampu mengendalikan antraknose dan penyakit layu dengan dosis 500 ml per tangki (14 liter)
  2. Asap cair efektif mengendalikan hama belalang dan ulat Prodenia litura, walang sangit, hama kutu putih (Ceratovacuna lanigera),penyakit blendok (busuk batang Phytophthera sp) pada tanaman jeruk keprok dengan perbandingan asap cair 1:15
  3.  Asap cair efektif mengendalikan rayap, nyamuk, semut dengan dosis 15-20 cc/lt setiap tiga hari sekali pada tempat yang terserang
  4. Asap cair efektif mempercepat pertumbuhan tanaman secara vegetatif, dengan dosis 20 cc/lt setiap 2 minggu sekali disemprotkan kedaun atau disiram melalui akar
  5. Asap cair efektif sebagai pupuk, dengan menyemprotkanasap cair konsentrasi 1:1000 diataspermukaan daun pada tanaman muda. Sedangkan pada tanaman dewasa, larutan asap cair disiramkan disekitar perakaran setiap dua minggu.

Referensi :
BBPP Ketindan Malang


Kamis, 29 Juli 2021

WASPADA HAMA WERENG PADA TANAMAN JAGUNG

Oleh : Sri Hadiawati, SP

Mengenal Hama Wereng Jagung

Wereng Jagung (Peregrinus Maidis Ashm) adalah salah satu hama minor di tanaman jagung, namun keberadaan patut diwaspadai karena potensi kehilangan hasil yang disebabkan oleh serangan wereng ini bisa mencapai 70 %, hal ini disebabkan wereng ini menghisap cairan tanaman sehingga menyebabkan daun mengering dan bisa menyebabkan tanaman menjadi kerdil dan tidak menghasilkan tongkol yang sempurna selain itu hama ini juga diketahui sebagi vektor beberapa jenis virus diantaranya MMV (Maize Mosaic Rhabdovirus) dan MStV (Maize Tenui virus) , walaupun belum ada laporan tentang kerugian yang serius karena serangan hama ini karena umunya serangannya pada umur 47 - 73 HST yang mana telah melewati fase kritis tanaman jagung, sehingga kerugian yang disebabkan tidak terlalu signifikan, walaupun beberapa tahun terakhir ada laporan bahwa wereng jagung juga ditemukan pada fase vegetatif 15 - 42 HST.
Wereng jagung Peregrinus maidis Ashmead adalah serangga hama yang hidup pada tanaman jagung. Serangga ini mempunyai nama synonim antara lain Delphax maidis Ashmead, Delphax psylloides Lethierryi, dan Pundaluoya simplicia Distant. Serangga ini masuk dalam famili Delphacidae, genus Peregrinus dan specsies maidis. Serangga ini tidak saja merusak tanaman jagung dan sorgum, tetapi juga dapat menularkan penyakit sejenis virus yang disebut penyakit MMV (maize mosaic rhabdovirus) dan penyakit MStV (maize tenuivirus), Serangga ini mempunyai banyak inang walupun niche utamanya adalah jagung dan sorgum. Serangga ini dapat juga bertahan hidup pada beberapa rerumputan dari jenis rumput navier Pennisetum purpureum Schumach, rumput vasey Paspalum urvillei Steud, tanaman tebu Saccharum officinarum L, dan sorgum. Serangga ini ditemukan juga pada rumput coarse.

Siklus Hidup Wereng Jagung

Wereng Jagung betina bertelur 20-30 telur di dalam pelepah daun tanaman inang mereka. Dalam kondisi normal, perkembangan dari penetasan ke dewasa membutuhkan waktu sekitar 20 hari. Namun, perkembangan nimfa wereng jagung sangat tergantung pada suhu. Perkembangan normal terjadi antara 20-27 ° C dan memiliki lima tahap nimfa (remaja). Suhu ekstrem (di bawah 10 ° C dan di atas 30 ° C) mengakibatkan hilangnya instar kelima dan ganti kulit langsung dari instar keempat ke dewasa, tetapi perkembangan penuh hingga 74 hari. Wereng jagung ini mampu mereproduksi sepanjang tahun, tetapi perkembangannya dipengaruhi oleh perubahan suhu. Faktor lain yang mempengaruhi perkembangan adalah ketersediaan nutrisi. Peningkatan kadar pupuk Nitrogen dalam jaringan tanaman menghasilkan waktu pengembangan yang lebih singkat, lebih banyak telur yang dihasilkan, dan peningkatan tingkat kelangsungan hidup nimfa dan Imago.

Gejala Serangan Wereng Jagung

Wereng jagung menyerang tanaman dengan cara menghisap cairan tanaman inangnya, gejala serangan pada daun tampak bercak bergaris kuning, garis-garis pendek terputus-putus sampai bersambung terutama pada tulang daun kedua dan ketiga. Daun tampak bergaris kuning panjang, begitu pula pada pelepah daun. Pertumbuhan tanaman akan terhambat, menjadi kerdil, tanaman menjadi layu dan kering (hopper burn). Selain itu hama ini juga sebagai vektor untuk beberapa jenis virus diantaranya MMV (Maize Mosaic Rhabdo virus) dan MStV (Maize Tenui virus)

Pengendalian Serangan Wereng Jagung

Pengendalian hama ini dapat dilakukan dengan berbagai cara diantaranya :
  1. Menanam varietas yang tahan
  2. Tanam serempak untuk meminimalkan serangan.
  3. Membersihkan rumput-rumput yang mejadi inang alternative dari hama ini.
  4. Mengurangi penggunaan pupuk Nitrogen (urea dan ZA) karena penggunaan pupuk nitrogen yang tinggi dapat menyebabkan hama ini berkembang dengan cepat.
  5. Jarak tanam jangan terlalu rapat, untuk menjaga sirkulasi udara
  6. Jika serangan tinggi lakukan pengendalian dengan cara kimia, gunakan pestisida yang tepat salah satunya dengan menggunakan insektisida berbahan aktif pimetrozin 50 % yang bersifat sistemik dengan cara menghambat aktivitas makan serangga.

by Sri Hadiawati, SP.

Referensi :
https://www.pejuangpangan.com/2019/02/mewaspadai-serangan-wereng-jagung.html
picture by srihadiawati_bpppare

 

Jumat, 28 Mei 2021

PENGENALAN DAN PENGENDALIAN HAMA ULAT GRAYAK SPODOPTERA FRUGIPERDA (FAW) PADA TANAMAN JAGUNG

 (Oleh : Sri Hadiawati, SP)

Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu komoditas tanaman yang memiliki peran penting untuk pemenuhan kebutuhan pangan manusia. Jagung juga banyak dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuatan pakan ternak. Hal ini merupakan peluang bagi petani untuk mengembangkan budidaya tanaman jagung agar produksi meningkat.

Kamis, 29 April 2021

KEGIATAN PENYULUHAN PERTANIAN

Edisi Sinau Bareng Kelompok Tani


PENGENALAN DAN PENGENDALIAN HAMA ULAT GRAYAK
SPODOPTERA FRUGIPERDA (FAW) PADA TANAMAN JAGUNG
DI KELOMPOK TANI SIDO MAKMUR DESA TERTEK KECAMATAN PARE

(Oleh : Sri Hadiawati, SP)



Edisi Sinau Bareng Kelompok Tani dalam rangka kegiatan penyuluhan pertanian yang dilakukan oleh PPL di wilayan BPP Kecamatan Pare pada hari Selasa tanggal 27 April 2021 dilaksanakan di Kelompok Tani Sido Makmur Desa Tertek.

Kamis, 25 Juni 2020

PUPUK ORGANIK DARI SAMPAH RUMAH TANGGA

By : Sri Hadiawati, SP BPP_Pare


Sampah organik adalah sampah yang berasal dari sisa makhluk hidup yang mudah terurai secara alami tanpa proses campur tangan manusia. Sampah organik dikategorikan sebagai  sampah yang ramah lingkungan bahkan bisa diolah kembali menjadi pupuk yang berguna bagi tanaman jika dikelola dengan tepat. Tetapi jika sampah tersebut tidak dikelola dengan baik dan benar akan menimbulkan penyakit dan bau yang kurang sedap yang dihasilkan dari proses pembusukan sampah organik.

Cara pembuatan pupuk organik dari sampah rumah tangga hanya untuk orang-orang yang tidak gampang jijik dikarenakan bahan-bahan yang akan kita gunakan dalam pembuatan pupuk organik cair adalah limbah rumah tangga yang bentuk dan rupanya tidak sejuk di mata. Belum lagi aromanya yang mungkin akan sangat mengganggu. Meski demikian jika anda memang berniat, persoalan ini bisa disiasati dengan menggunakan masker dan sarung tangan.

Banyak pilihan dan cara membuat kompos skala rumah tangga. Ada yang dipendam di dalam tanah, ada yang dapat diputar untuk memudahkan pengadukan dan aerasi, ada yang menggunakan kotak kayu, atau bahkan memanfaatkan keranjang pakaian kotor (takakura). Komposter dapat dibuat sendiri atau membeli dalam bentuk jadi.

Hal-hal yang perlu diperhatikan agar pembuatan kompos berjalan dengan baik adalah :

1.    Potong kecil-kecil seluruh bahan kompos. Semakin kecil akan semakin kecil akan semakin baik karena akan mempercepat proses dekomposisi.

2.    Aduk bahan kompos agar aerasi berjalan optimal, khususnya saat kompos terlalu panas. Selain itu proses dekomposisi membutuhkan oksigen. Kekurangan oksigen menyebabkan terjadinya proses anaerob yang dapat menimbulkan bau tidak sedap.

3.    Jika tersedia, tambahkan dekomposer atau aktivator. Gunakan air gula atau molase (tetes tebu) atau air kelapa untuk mengaktifkan mikroba dengan cepat

4.    Jaga campuran kompos agar selalu dalam keadaan lembab

5.    Gunakan sampah kering untuk menjaga rasio C/N dan kelembaban

6.    Selektif menggunakan limbah hewani. Limbah hewani seperti daging dan ikan mudah busuk dan menimbulkan baau tidak sedap. Bau ini juga menyebabkan lalat berdatangan, lalu bertelur sehingga banyak muncul belatung. Pembuatan kompos dari hewani akan lebih aman dilakukan dengan memanfaatkan lubang biopori.

Demikianlah langkah-langkah membuat pupuk organik dari sampah organik rumah tangga. Kita tidak akan tahu mudah atau sulit kalau tidak mencoba.

Jadi selamat mencoba yaa....!!!!

Referensi :

https://www.bulelengkab.go.id/detail/artikel/pengertian-dan-pengelolaan-sampah-organik-dan-anorganik-13
http://cybex.pertanian.go.id/mobile/artikel/90356/Cara-Membuat-Pupuk-Organik-Cair-Dari-Sampah---Limbah-Rumah-Tangga/
Soeleman,S dan Rahayu, D. 2013. Halaman Organik Mengubah Taman Rumah menjadi Taman Sayuran Organik untuk Gaya    Hidup Sehat. Agro Media Pustaka. Jakarta. 162 hal.

Kamis, 16 April 2020

GERAKAN PENGENDALIAN HAMA WBC DI POKTAN SIDO RUKUN DESA TERTEK KECAMATAN PARE

Oleh : Sri Hadiawati, SP.


Berdasarkan hasil pengamatan dan pemantauan oleh PPL dan POPT telah ditemukan adanya populasi hama WBC migran yang melebihi ambang ekonomi di wilayah Poktan  Sido Rukun Desa Tertek. Setelah berkoordinasi dengan pengurus poktan, Penyuluh Pertanian BPP Kecamatan Pare dan POPT bersama petani melakukan gerakan pengendalian hama WBC atas dukungan Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Kediri berupa bantuan insektisida.


Gerakan bersama oleh kelompok tani diwilayah yang terserang WBC tersebut dilaksanakan pada tanggal 8 April 2020. Pengendalian hama wereng ini menggunakan insektisida berbahan aktif BPMC bantuan Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Kediri.


Hama Wereng Batang Coklat (Nilaparvata lugens Stall) merupakan hama utama pada tanaman padi karena kerusakan yang diakibatkan cukup luas. Hama ini sering menyerang tanaman padi muda hingga masa panen. Hama WBC harus segera ditangani pengendaliannya karena jika terabaikan akan berdampak menurunkan produksi padi bahkan bisa gagal panen.
Hama WBC biasanya berawal dari WBC migran pada awal fase pembentukan anakan tanaman padi. Setelah menetap, WBC berkembang biak secara eksponensial satu atau dua generasi pada tanaman padi vegetatif tergantung pada saat migrasinya. Apabila migrasi terjadi pada umur 2-3 minggu setelah tanam, maka WBC dapat berkemabang biak sebanyak dua generasi.
Hal ini dapat diuraikan dalam siklus hidup WBC sebagai berikut :

G-0 merupakan tahap migran, serangga migran menyerang padi , setelah menetap dan berkembang biak menjadi G-1  (generasi pertama). Betina dewasa pada generasi pertama biasanya berbentuk serangga bersayap pendek dan berkembang biak menjadi G-2 yaitu tahap perusak (generasi kedua). Sejumlah besar serangga dewasa bersayap panjang muncul dan berpindah. Jika pada hamparan yang sama terdapat area padi yang baru ditanami maka akan terjadi imigrasi WBC dari tanaman generatif tersebut.
Kerusakan dapat terjadi pada tanaman padi tergantung pada :
  1. Populasi awal wbc saat migrasi
  2. Umur tanaman saat terjadinya migrasi
  3. Varietas padi
  4. Keadaan iklim
  5. Pemupukan yang tidak berimbang
  6. Penggunaan pestisida yang tidak benar
Strategi Pengendalian Wereng Batang Coklat :
  • Pengamatan intensif dilakukan minimal 1 minggu sekali
  • Waspadai daerah endemis
  • Waspadai adanya populasi WBC dipersemaian dan tanaman muda
  • Koordinasikan gerakan pengendalian dan penyuluhan dengan PPL dan POPT setempat

Referensi :
http://www.agrotani.com/siklus-hamawereng-coklat-pada-tanaman-padi-2
http://www.artikel.com/hama-wereng-batang-cokelat-padi-dan-cara-pengendaliannya/
https://www.blogger.com/blogger.g?blogID...


Kamis, 13 Februari 2020

GERAKAN PENGENDALIAN HAMA TIKUS SERENTAK DI POKTAN SUKA USAHA DESA SAMBIREJO KECAMATAN PARE


Gerakan pengendalian hama secara serentak pada hari Kamis tanggal 13 Pebruari 2020 di wilayah Kabupaten Kediri termasuk Kecamatan Pare yang dilaksanakan di wilayah Poktan Suka Usaha Desa Sambirejo adalah salah satu upaya pemerintah daerah melalui Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Kediri dalam rangka mengendalikan serangan hama tikus. Hama tikus selalu menjadi masalah bagi petani. Akibat serangan hama ini petani akan mengalami kehilangan hasil panen. Serangan hama tikus terjadi hampir setiap musim tanam. Tikus sawah (Rattus argentiventer) adalah jenis hama pengganggu pertanian utama dan sulit dikendalikan karena tikus itu mampu "belajar" dari tindakan-tindakan yang telah dilakukan sebelumnya. Tikus memiliki indra penciuman yang berkembang dengan baik. Dengan kemampuan ini tikus dapat menandai wilayah pergerakan tikus lainnya mengenali jejak tikus yang tergolong dalam kelompoknya.

Kamis, 14 Maret 2019

Pengendalian Penyakit Kresek (Hawar Daun Bakteri)

Oleh : Sri Hadiawati, SP.



Penyakit hawar daun bakteri (HDB) merupakan salah satu penyakit padi utama yang tersebar di berbagai ekosistem padi di negara-negara penghasil padi, termasuk di Indonesia. Penyakit disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo). Patogen ini dapat mengenfeksi tanaman padi pada semua fase pertumbuhan tanaman dari mulai pesemaian sampai menjelang panen. Penyebab penyakit (patogen) menginfeksi tanaman padi pada bagian daun melalui luka daun atau lobang alami berupa stomata dan merusak klorofil daun. Hal tersebut menyebabkan menurunnya kemampuan tanaman untuk melakukan fotosintesis yang apabila terjadi pada tanaman muda mengakibatkan mati dan pada tanaman fase generative mengakibatkan pengisian gabah menjadi kurang sempurna.

GEJALA DAN DAMPAK PENYAKIT

Bila serangan terjadi pada awal pertumbuhan, tanaman menjadi layu dan mati, gejala ini disebut kresek. Gejala kresek sangat mirip dengan gejala sundep yang timbul akibat serangan penggerek batang pada fase tenaman vegetatif. Pada tanaman dewasa penyakit hawar daun bakteri menimbulkan gejala hawa (blight). Baik gejala kresek maupun hawar, gejala dimulai dari tepi daun, berwarna keabu-abuan dan lama-lama daun menjadi kering (Gambar 1). Bila serangan terjadi saat berbunga, proses pengisian gabah menjadi tidak sempurna, menyebabkan gabah tidak terisi penuh atau bahkan hampa. Pada kondisi seperti ini kehilangan hasil mencapai 50-70 persen. 
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN PENYAKIT
Faktor lingkungan yang sangat berpengaruh terutama adalah kelembaban yang tinggi sangat memacu perkembangan penyakit ini. Oleh karena itu penyakit hawar daun bakteri sering timbul terutama pada musim hujan. Pertanaman yang dipupuk Nitrogen dengan dosis tinggi tanpa diimbangi dengan pupuk Kalium menyebabkan tanaman menjadi lebih rentan terhadap penyakit hawar daun bakteri. Oleh karena itu untuk menekan perkembangan penyakit hawar daun bakteri disarankan tidak memupuk tanaman dengan Nitrogen secara berlebihan, gunakan pupuk Kalium dan tidak menggenangi pertanaman secara terus menerus, sebaiknya pengairan dilakukan secara berselang (intermiten).
PENGENDALIAN PENYAKIT HAWAR DAUN BAKTERI
1.   Teknik Budidaya
Penanaman Benih dan bibit sehat. Mengingat patogen penyakit HDB dapat tertular melalui benih maka sangat dianjurkan pertanaman yang terinfeksi penyakit HDB tidak digunakan sebagai benih. Bibit yang sudah terinfeksi /bergejala penyakit HDB sebaiknya tidak ditanam.
Cara tanam. Untuk memberikan kondisi lingkungan yang kurang mendukung terhadap perkembangan penyakit HDB sangat dianjurkan tanam dengan system Legowo dan .menggunakan system pengairan secara berselang (intermitten irrigation). Sistem tersebut akan mengurangi kelembaban disekitar kanopi pertanaman, mengurangi terjadinya embun dan air gutasi dan gesekan daun antar tanaman sebagai media penularan pathogen.
Pemupukan . Pupuk Nitrogen berkorelasi positif dengan keparahan penyakit HDB. Artinya pertanaman yang dipupuk Nitrogen dengan dosis tinggi menyebabkan tanaman menjadi lebih rentan dan keparahan penyakit lebih tinggi. Sebaliknya dengan pupuk Kalium menyebabkan tanaman menjadi lebih tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri. Oleh karena itu agar perkembangan penyakit dapat ditekan dan diperoleh produksi yang tinggi disarankan menggunakan pupuk N dan K secara berimbang dengan menghindari pemupukan N terlalu tinggi.
Sanitasi lingkungan . Mengingat pathogen dapat bertahan pada inang alternative dan sisa-sisa tanaman maka sanitasi lingkungan sawah dengan menjaga kebersihan sawah dari gulma yang mungkin menjadi inang alternative dan membersihkan sisa-sisa tanaman yang terinfeksi merupakan usaha yang sangatdianjurkan.
Pencegahan . Untuk daerah endemik penyakit HDB disarankan menanam varietas padi yang memiliki ketahanan terhadap penyakit HDB. Pencegahan penyebaran penyakit perlu dilakukan dengan cara antara lain tidak menanam benih yang berasal dari pertanaman yang terserang penyakit , mencegah terjadinya infeksi bibit melalui luka dengan tidak melakukan pemotongan bibit dan menghindarkan pertanaman dari naungan.
2.  Cara Pengendalian Penyakit HDB dengan Varietas Tahan
Pengendalian penyakit hawar daun bakteri yang selama ini dianggap paling efektif adalah dengan varietas tahan. Namun teknologi ini dihambat oleh adanya kemampuan bakteri patogen membentuk patotipe (strain) baru yang lebih virulen yang menyebabkan ketahanan varietas tidak mampu bertahan lama. Adanya kemampuan pathogen bakteri Xoo membentuk patotipe baru yang lebih virulen juga menyebabkan pergeseran dominasi patotipe pathogen ini terjadi dari waktu ke waktu. Hal ini menyebabkab varietas tahan disuatu saat tetapi rentan di saat yang lain dan tahan di suatu wilayah tetapi rentan di wilayah lain. Sehubungan dengan sifat -sifat yang demikian ini maka pemantauan dominasi dan komposisi patotipe bakteri Xoo di suatu ekosistem padi (spatial dan temporal) menjadi sangat diperlukan sebagai dasar penentuan penanaman varietas tahan di suatu wilayah. Peta penyebaran patotipe dapat digunakan sebagai dasar penentuan penanaman suatu varietas disuatu wilayah berdasarkan kesesuaian sifat tahan varietas terhadap patotipe yang ada di wilayah tersebut. Mengingat tahan terhadap patotipe tertentu bisa jadi tidak tahan (rentan) terhadap patotipe yang lain. Pada daerah yang dominan HDB patotipe III disarankan menanam varietas yang tahan terhadap patotipe III, daerah dominan patotipe IV disarankan menanam varietas tahan patotipe IV dan dominan patotipe VIII disarankan menanam varietas tahan patotipe VIII .

Referensi :

http://bbpadi.litbang.pertanian.go.id/index.php/info-berita/info-teknologi/pengendalian-penyakit-kresek-dan-hawar-daun-bakteri